UA Gelar PKKMB 2026, Dr. H. Damanhuri Ajak Mahasiswa Baru Jadi Pelopor Inovasi Teknologi Hijau

Sumenep, UA Media — Pesantren disebut sebagai mata air peradaban yang tidak pernah kering. Namun, di tengah perubahan zaman dan tantangan lingkungan yang semakin kompleks, muncul pertanyaan penting: ke mana mata air tersebut harus dialirkan hari ini?

Pernyataan itu menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Dr. H. Damanhuri, M.Ag., dalam Stadium General Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Annuqayah (UA) 2026 dengan tema “Transformasi Santri Cendekia: Sebagai Pelopor Inovasi Teknologi Hijau Berdasarkan Spirit Pesantren”, Senin (10/8/2026).

Direktur Pascasarjana Universitas Annuqayah ini mengawali pemaparannya dengan mengajak mahasiswa baru memahami posisi pesantren dalam perjalanan panjang peradaban Islam di Indonesia. Menurutnya, pesantren memiliki akar sejarah yang sangat panjang, bahkan telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Jejak tersebut tidak dapat dipisahkan dari proses islamisasi Nusantara yang salah satunya dilakukan melalui dakwah para Walisongo.

“Usia pesantren lebih tua dari kemerdekaan Indonesia. Kalau kita baca sejarahnya, Walisongo melakukan proses islamisasi di Indonesia. Maka banggalah kita sebagai santri,” ungkapnya.

Pesantren sebagai Mata Air Peradaban

Dr. H. Damanhuri kemudian mengajak peserta merefleksikan keberadaan pesantren yang mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman.

“Pesantren adalah mata air peradaban yang tak pernah kering. Tetapi ke ladang mana mata air itu harus dialirkan hari ini?” ujarnya.

Menurutnya, air yang mengalir akan memberikan kehidupan, tetapi arah alirannya akan menentukan masa depan. Karena itu, santri tidak cukup hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi harus mampu menentukan arah perubahan dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, santri cendekia ditempatkan sebagai generasi yang mampu mempertemukan tradisi pesantren dengan teknologi modern. Tradisi memberikan arah melalui ilmu, adab, akhlak, kebersamaan, dan solidaritas, sedangkan teknologi memberikan cara untuk menghadirkan solusi baru.

“Bukan memilih salah satu, melainkan mensintesiskan keduanya,” katanya.

Santri, lanjutnya, harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar penonton perubahan zaman.

Santri dan Masa Depan Energi Hijau

Salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam Stadium General adalah transisi energi hijau. Dalam materi yang disampaikan, masa depan energi diarahkan pada energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sementara Indonesia perlu mengambil bagian dalam menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan global.

Dr. H. Damanhuri menilai pesantren memiliki kekuatan strategis untuk mengambil peran tersebut. Pesantren mempunyai basis massa yang luas, legitimasi moral di tengah masyarakat, jaringan sosial yang kuat hingga ke berbagai daerah, serta pendidikan karakter yang membentuk santri menjadi pribadi berintegritas, disiplin, dan memiliki jiwa pengabdian.

Karena itu, pesantren dinilai tidak semestinya hanya menjadi penonton dalam gerakan transisi energi hijau. Pesantren justru dapat menjadi bagian penting dari gerakan tersebut.

“Menjaga bumi hari ini adalah mewariskan kehidupan untuk esok,” demikian pesannya.

Empat Nilai Filosofis Pesantren Hijau

Dr. H. Damanhuri yang juga Sekretaris PCNU Sumenep ini mengatakan terdapat 4 nilai utama yang dapat menjadi landasan filosofis bagi pengembangan peradaban hijau berbasis pesantren, yakni khidmah, tawazun, hifz al-bi’ah, dan zuhud.

Khidmah atau pengabdian menjadi inti kehidupan pesantren. Pengabdian kepada manusia juga dapat dimaknai sebagai pengabdian kepada bumi dan seluruh ekosistemnya. Sementara tawazun mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam membangun keberlanjutan.

Kemudian hifz al-bi’ah atau menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas tujuan syariat dalam menjaga kehidupan. Sedangkan zuhud mengajarkan pola hidup sederhana, tidak berlebihan, dan menghindari pemborosan.

Keempat nilai tersebut menunjukkan bahwa pesantren sesungguhnya telah memiliki fondasi untuk membangun peradaban hijau. Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut dibangunkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

5 Pilar Inovasi Teknologi Hijau

Transformasi teknologi hijau berbasis pesantren dalam materi Stadium General diarahkan melalui lima pilar utama, yakni energi bersih, pengelolaan sumber daya alam, digitalisasi pesantren, ekonomi hijau berkelanjutan, serta pendidikan dan kultur hijau.

Energi bersih dapat diwujudkan melalui pemanfaatan energi surya, biogas, dan sumber energi terbarukan lainnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Pada aspek sumber daya alam, pesantren dapat mengembangkan pengelolaan air, sampah, dan lahan secara bijak melalui teknologi ramah lingkungan serta prinsip ekonomi sirkular.

Sementara digitalisasi pesantren dapat diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, administrasi, dan pengelolaan energi berbasis data. Di sisi lain, ekonomi hijau dapat dikembangkan melalui usaha produktif berbasis potensi lokal yang berwawasan lingkungan dan berdaya saing.

Adapun pendidikan dan kultur hijau perlu ditanamkan melalui kurikulum, pembiasaan, serta keteladanan kiai dan ustaz. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat peradaban hijau yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan bumi.

Santri Cendekia: Cerdas Spiritual, Intelektual, dan Ekologis

Dr. H. Damanhuri juga menekankan bahwa setiap santri memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk berkontribusi dalam gerakan teknologi hijau.

Santri cendekia diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan modern. Mereka perlu berpikir kritis, kreatif, visioner, dan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana kebaikan serta keberlanjutan.

Santri cendekia, dalam materi tersebut, diarahkan menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual, intelektual, emosional, dan ekologis.

Peran itu dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan pesantren, seperti pengelolaan sampah organik, penggunaan energi secara efisien, penghematan air, penerapan gaya hidup ramah lingkungan, hingga pengembangan berbagai inovasi berbasis teknologi.

Tidak berhenti pada aksi individual, santri juga didorong membangun kolaborasi dengan sesama santri, guru, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai komunitas hijau.

Dari Pesantren, Merawat Bumi; dari Ilmu dan Akhlak, Membangun Peradaban

Pada akhirnya, transformasi teknologi hijau tidak hanya berbicara tentang perangkat teknologi, energi terbarukan, atau pengelolaan lingkungan. Lebih jauh, ia merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Pesantren memiliki modal besar untuk menjadi pelopor karena memiliki perpaduan antara ilmu, akhlak, kemandirian, keberlanjutan, dan spirit pengabdian.

Karena itu, mahasiswa baru Universitas Annuqayah diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang mampu mengarahkannya untuk kemaslahatan.

Stadium General tersebut akhirnya membawa satu pesan besar: santri cendekia harus bergerak dari pesantren untuk memberikan dampak bagi dunia.

Dari pesantren, ilmu dan inovasi diharapkan tumbuh. Dari santri, solusi bagi bumi diharapkan lahir. Dan melalui teknologi hijau yang berlandaskan spirit pesantren, masa depan Indonesia yang berkeadaban dan berkelanjutan dapat diwujudkan. (Abd. Malik)