Aswaja Center dan Pusat Studi Naskah Temukan Jejak Tarekat Sammaniyah di Madura

Pamekasan, UA Media – Madura, khususnya Pamekasan, terbukti menjadi salah satu pusat penting penyebaran tarekat besar di Nusantara. Hal ini diperkuat oleh temuan filologis oleh Pusat Studi Aswaja dan Naskah Pesantren Universitas Annuqayah atas sejumlah naskah kuno di Pondok Pesantren Cendana Mubarok, Kadur, Pamekasan, 28 Maret 2026– 18 April 2026.

Pusat Studi Aswaja dan Naskah Pesantren Universitas Annuqayah turut andil dengan berperan sebagai mediator dan kurator ahli, memastikan proses identifikasi, preservasi, dan pendokumentasian naskah berjalan sesuai dengan standard filologi serta tetap menghormati nilai-nilai tradisi pesantren. Kegiatan ini juga melibatkan tim MBKM Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya dalam proses digitalisasi dan pembersihan naskah.

Moh. Ainur Ridha, M. Hum, Kepala Pusat Studi Naskah Universitas Annuqayah mengatakan dari temuan itu berhasil dipreservasi sebanyak 52 bundel naskah yang mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, tasawuf, dan tauhid.

“Seluruh naskah kini telah tersedia dalam bentuk digital, sehingga diharapkan dapat menjaga kelestariannya sekaligus memperluas akses bagi kalangan santri dan peneliti,” katanya.

Asal Muasal Ditemukannya Tarekat Sammaniyah

Sejumlah naskah kuno ini mengungkap kuatnya jejaring intelektual dan spiritual ulama tasawuf pada abad ke-18 hingga ke-19 Masehi, terutama dalam tradisi Tarekat Sammaniyah dan Khalwatiyah. Salah satu tokoh kunci dalam temuan ini adalah Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, ulama besar asal Bangkalan, Madura.

Melalui karya-karyanya, seperti Miftah al-Anwar fi Ma'rifati ‘Ilm al-Asrar dan ‘Iqd al-Watsiq fi ‘I‘tiqad Ahl al-Tahqiq, ia memberikan bukti otentik tentang keberlangsungan sanad keilmuan tasawuf yang bersambung langsung kepada Syaikh Muhammad Samman al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah. Dalam matn naskahnya, Syaikh Abdul Ghafur secara eksplisit menyebut dirinya sebagai murid langsung tokoh tersebut.

Terkait karya Syaikh Abdul Ghafur, dua naskah di atas menjadi temuan baru, dari yang sebelumnya hampir dua dekade hanya ada satu naskah yang ternisbat kepadanya, yakni Al-Durrun al-Nafis yang ditemukan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Khusus naskah ‘Iqd al-Watsiq fi ‘I‘tiqad Ahl al-Tahqiq, diketahui ditulis sekitar tahun 1791 Masehi (1205 Hijriyah). Naskah ini kemudian disalin oleh Kiai Shihhah dari Beringin, Pamekasan, yang merupakan murid langsung Syaikh Abdul Ghafur. Kiai Shihhah sendiri diperkirakan hidup pada rentang awal hingga pertengahan abad ke-19 Masehi. Informasi ini semakin menegaskan keberlanjutan transmisi keilmuan dari guru ke murid dalam lingkungan pesantren Madura.

Posisi Syaikh Abdul Ghafur juga sezaman dengan Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani, ulama terkemuka di dunia Melayu yang dikenal memiliki keterkaitan erat dengan Tarekat Sammaniyah. Ia juga sezaman Syaikh Arsyad Al-Banjari yang berjejuluk Datuk Klampayan. Hal ini menunjukkan adanya jejaring ulama lintas wilayah yang memperkuat penyebaran ajaran tasawuf di Nusantara.

Jejak dakwah Syaikh Abdul Ghafur masih terasa hingga kini. Praktik zikir dan ritual yang dikenal sebagai "Samman" masih hidup di tengah masyarakat Madura. Pengaruh ini tidak lepas dari posisinya sebagai ulama lokal sekaligus bagian dari jaringan intelektual global yang telah mengakar kuat.

Selain karya Syaikh Abdul Ghafur, ditemukan pula naskah penting lainnya, yaitu Washilah al-Munjiyyah karya Syaikh Yusuf al-Makassari Taj al-Khalwati, ulama besar Nusantara sekaligus pahlawan nasional. Kehadiran naskah ini menjadi signifikan karena dalam sumber yang sama disebutkan bahwa Syaikh Abdul Ghafur juga merupakan penganut Tarekat Khalwatiyah. Dengan demikian, kedua tokoh tersebut berada dalam satu jaringan tarekat yang sama.

Keberadaan naskah-naskah ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara, tetapi juga mengonfirmasi kuatnya jejaring intelektual dan spiritual antarulama lintas wilayah dan tarekat. Ke depan, pelestarian ini diharapkan tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi dilanjutkan dengan kajian mendalam terhadap isi, konteks, dan kontribusi historisnya.

Di akhir kegiatan, tim pelestari mengajak para santri dan pengurus Pondok Pesantren Cendana Mubarok serta pesantren-pesantren lainnya di Madura agar dapat melanjutkan upaya pelestarian naskah kuno secara mandiri.

“Ke depan, diharapkan setiap pesantren memiliki kesadaran dan kapasitas untuk merawat, mendigitalisasi, serta mengkaji khazanah naskah klasik yang menjadi warisan berharga bagi peradaban Islam Nusantara,” pungkasnya.